Janganlah kau lupa, bukanlah kekuatanmu yang berkuasa terhadap dunia fana, namun pemeliharan baik para Dewa.

Usai mencapai tempat ini, dengan nilaimu terbukti, Jalan terbuka 'tuk kau selidiki.
Proyek Zerynthia adalah proyek OCRP dengan genre utama fantasi. Dengan latar belakang dan alur cerita yang mendetil, ini memberikan peluang eksplorasi yang tak terbatas.Zerynthia sendiri merupakan daratan luas dalam dimensi tertentu, yang berisi empat daratan utama yang dipisahkan oleh titik-titik mata angin.
Di utara, terletaklah Neith. Bagian selatan tanah dimiliki oleh Ein. Untuk wilayah barat didominasi oleh Alovetta. Di bagian timur, Synestia berkuasa.

Bab 1: Origin of Zerynthia (0-3500 SM Kalender Zerynthia)
Dahulu kala, dunia dibentuk oleh kekuatan dari Tuhan yang pada akhirnya memecah diri-Nya menjadi 12 sosok demi menjaga kestabilan dunia. 12 sosok ini dipuja dan diagungkan oleh penduduk Zerynthia. Mereka adalah:1. Construction Gods:
a. God of Fire
b. God of Water
c. God of Earth
d. God of Wind
Mereka adalah dewa penjaga arah barat (Wilayah Holy Empire of Alovetta)2. Blessing Gods:
a. God of Wisdom
b. God of Courage
c. God of Mercy
Mereka adalah dewi penjaga arah timur (Wilayah Synestia Kingdom's Alliance, nantinya berkembang menjadi Synestia Empire)3. Special Gods:
a. God of Peace
b. God of Balance
c. God of Spirit
Mereka adalah dewa-dewi penjaga arah utara (Wilayah Dominion of NEITH)4. Chief Gods:
a. God of War
b. God of Species
Mereka adalah dewa dewi penjaga arah selatan (Wilayah Dark Domain: Republic of Ein)
Tak berselang setelah Zerynthia terbentuk dengan 1 benua maha besar yang terdiri atas 4 musim yang berbeda di tiap wilayahnya dan ras yang beraneka ragam, para dewa dewi tersebut mencipatakan sebuah sumber kekuatan yang akan menjaga seluruh tatanan dunia agar sesuai pada hakikatnya, Noieverre. Noieverre adalah tempat segala mahluk dan benda untuk kembali, tak berbentuk, tak berbau namun bisa dilihat dengan kasat mata. (Kasarnya seperti kumpulan sinar/cahaya yang berterbangan mengitari dunia)Waktu telah berjalan ribuan tahun, namun bagi dewa, angka itu hanya terasa seperti beberapa detik. Pada masa itu, tingkat kecerdasan manusia belumlah tinggi. Dan mereka hanya bertindak berdasarkan insting yang pada akhirnya memicu perang besar di seluruh benua yang menyebabkan krisis besar pada saat itu. Pada akhirnya mereka melakukan ritual pemanggilan pada dewa dan dewi tak berwujud ini, yang akhirnya termaterialisasi dalam bentuk manusia. Mereka memiliki wujud manusia yang lebih superior dibanding manusia pada umumnya.Hal inilah yang akhirnya mendorong para dewa dan dewi turun tangan, dan mereka menciptakan sebuah negara untuk menata kembali berbagai aspek kehidupan; termasuk agar Noieverre tidak disalah gunakan.. Dalam hitungan tahun seluruh wilayah Zerynthia berada di bawah kesatuan negara baru yang dinamai Republic of Ein tersebut. Republik Ein adalah sebuah negara makmur dan sejahtera, berbentuk republik yang dipimpin langsung oleh dewa perang dan dewi spesies sebagai wakilnya dengan dibantu oleh dewa-dewi lainnya.Wilayah Republik Ein terbagi oleh 4 daerah otonomi, yang mana dipimipin oleh dewa-dewinya masing-masing. Elven Land of Alovetta di barat, Isthmus of Noieverre di utara, Cargo District of Synestia di timur, dan Capital City of Eldenbaum di Selatan.

Bab 2: Crisis Core (3499-1 SM Kalender Zerynthia)
Namun lambat lambat laun, kedamaian yang tampak lekang abadi itu pun hanyalah sebuah kebahagiaan semu. Seiring dengan perkembangan teknologi dan magis yang kian maju, serta hasrat keduniawian yang mulai meracuni pikiran. Pada akhirnya pemimpin Republik Ein menyerah pada keserakahan dan rasa takut akan dewa-dewi yang berpotensi merebut kekuasaannya.Dewa perang memulai peperangan serta invasi pada wilayah yang memiliki hak otonomi yang dijaga oleh dewa-dewi lainnya, dengan cara-cara yang tidak manusiawi hanya demi kejayaan semata. Dengan bantuan dewi spesies yang mampu menciptakan berbagai pasukan monster dan spesies aneh lainnya, mereka dengan mudah menciptakan mala petaka di berbagai daerah.Puncaknya adalah ketika mereka menciptakan senjata pemusnah massal, Carronoah. Carronoah adalah sebuah meriam raksasa dengan ukuran sebesar sebuah kota kecil yang menggunakan jasad, arwah serta emosi negatif dari manusia. Semakin dekat ikatan batin antara korban pengorbanan Carronoah dengan targetnya, maka dampak yang diterima targetnya pun akan semakin keras. Untuk menggunakannya, pengguna harus mengorbankan manusia yang disesuaikan dengan besarnya intensitas daya ledakan. Manusia yang dikorbankan haruslah disiksa hingga dititik mereka hampir mati dan gila akibat rasa sakit. Ini disebabkan karena Carronoah tidak memiliki kemampuan untuk memproses arwah berenergi positif (Caelux), menjadi arwah berenergi negatif (Hex) secara otomatis.Semakin besar emosi negatif yang dihasilkan, semakin besar pula dampaknya. Karenanya, tak sedikit orang yang mati dalam fase penyiksaan bahkan sebelum mereka berhasil dikorbankan untuk penggunaan Carronoah.Hal ini memicu amarah dewa-dewi penjaga arah mata angin lainnya, yang pada akhirnya memerintahkan 3 wilayah otonomi yang berada di luar kekuasaan dewa perang untuk menentang tindakan dari penguasa ibu kota Eldenbaum tersebut.
Perang besar pun terjadi, dan dataran Zerynthia wilayah timur yang menjadi pusat peperangan dan daerah logistik, perlahan tapi pasti mulai hancur akibat peperangan. Tanah yang tadinya subur lambat laun menjadi tandus. Dan berbagai mahluk kian menghilang dari peredaran dan punah.Namun pada akhirnya, setelah krisis berkepanjangan akibat perang sengit, karma mulai memainkan perannya. Meriam Carronoah yang hendak ditembakkan dengan kekuatan penuh setelah mengorbankan penduduk Eldenbaum itu sendiri, akhirnya mengalami kelebihan muatan dan memuntahkan ledakan Hex di ibu kota itu sendiri dan menghancurkannya. Ledakan Hex yang ditembakkan akan mengakibatkan ledakan besar, munculnya kabut beracun serta mahluk astral lainnya sebagai bentuk dari emosi negatif korban Carronoah.Insiden tersebut, atau lebih tepatnya kecelakaan, menjadi penyebab di balik kehancuran Ibu Kota Eldenbaum. Dewi Spesies kemudian mengorbankan dirinya, memberikan sisa kekuatan sucinya hanya untuk memastikan kehidupan Dewa Perang. Intinya, dewa dan dewi akan tetap abadi selama mereka masih memiliki kekuatan suci tanda tangan mereka sendiri di dalam diri mereka. Oleh karena itu, setelah Dewi Spesies menyerahkan miliknya untuk memastikan kehidupan Dewa Perang, hidupnya berakhir. Terlepas dari semua itu, God of War yang sekarat berhasil dipojokkan dan dibunuh oleh dewa dan dewa lainnya.Namun, karena dewa perang belum kehilangan seluruh kekuatannya sebelum ia meninggal, maka ia akan mampu bereinkarnasi pada wadah baru di masa yang akan datang. Dewa Perang dan Dewi Spesies meninggalkan seorang keturunan yang pada saat itu masihlah balita.
Tidak ingin kontaminasi Hex ini meluas lebih jauh ke seluruh wilayah Zerynthia, 3 negara ini setuju untuk menggunakan kekuatan Caelux yang bersemayam di kawah Noieverre di daerah utara, untuk menyegel ibu kota Eldenbaum yang terkontaminasi Hex paling parah serta monster dan spesies mengerikan lainnya yang bernaung di dalamnya.

Bab 3: Ground Zero (1-846 Kalender Zerynthia)
Pada akhirnya, tahun-tahun pasca perang diisi dengan mempurifikasi kota-kota yang menjadi korban tembakan Hex. Akan tetapi, lambat laun keseimbangan Zerynthia mulai memudar, karena hilangnya 2 diantara 12 dewa-dewi yang menjaga tatanan dunia. Maka, terjadilah bencana alam bernama Cataclysm yang meruntuhkan dunia, menewaskan banyak orang serta menghancurkan seluruh daerah yang ada, termasuk 3 daerah yang menghentikan tirani Dewa Perang. 10 dewa-dewi yang tersisa menggunakan sisa kekuatan mereka untuk menyatukan kembali dunia yang runtuh memecah benua dunia. Sadar bahwa mereka tidak mampu mempertahankan wujud mereka lebih lama di dunia, mereka meninggalkan kitab pedoman (yang disebut Zen Codex) mereka masing-masing di tiap wilayah yang mereka jaga dengan harapan penerus mereka mampu menjaga stabilitas dari Zerynthia.Mereka pun menghapus memori seluruh umat manusia yang ada di Zerynthia tentang masa kelam peperangan terhadap Ein serta Cataclysm yang telah merombak ulang seisi dunia. Semua kecuali keturunan asli mereka yang menetap di Isthmus of Noieverre, yang kini dikenal sebagai Dominion of NEITH, karena mereka yang bertugas untuk menjaga Noieverre Crater yang berada di daerah utara agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Hal ini menyebabkan Void Century, karena hanya petinggi NEITHlah yang mengetahui kebenaran dunia ini.
Di wilayah barat, Construction Gods meninggalkan berbagai pedoman tentang mengutilisasi elemen di dunia dalam bentuk magis, serta meninggalkan bayi keturunan Dewa Perang disana. Yang mana kelak ini akan menjadi asal muasal ia menjadi manusia pertama di Elven Land of Alovetta. Seluruh daerah ini akan berada di bawah kekuasaan si anak dewa perang dengan Alovetta Empire-nya kelak, yang mampu memanipulasi Caelux dalam bentuk berbagai elemen.
Sebaliknya di wilayah timur, Blessing Gods meninggalkan berbagai ilmu pengetahuan tentang dunia yang menyebabkan Synestia Kingdom berkembang dengan sangat pesat dengan tekonloginya.Dan hanya takdir yang mampu menjawab tentang kebangkitan tanah terkutuk di selatan dari Republic of Ein yang kini dikenal sebagai Dark Domain oleh penduduk Zerynthia masa kini.Setelah 3 negara baru tersebut terbentuk, tahun selanjutnya dikenal sebagai Tahun 1 Masehi Kalendar Zerynthia.

Bab 4: Brutum Fulmen (847-1040 Kalender Zerynthia)
Invasi gila-gilaan yang dilakukan oleh kaisar pertama Alovetta, Lou, menyebabkan kepanikan serta huru-hara di seluruh Zerynthia. Akan tetapi, hal tersebut masih belum melanggar kode etik dari Zen Codex, sehingga keturunan leluhur pendiri tidak melakukan tindakan apa pun untuk menentangnya. Akibatnya peradaban Alovetta kian berkembang dengan kekuatan militer yang makin meningkat.Hal ini mendorong, Ahtar; kaisar ke-5 dari Alovetta, di usianya yang menginjak 152 tahun, ingin melakukan ekspansi ke wilayah timur guna mempersatukan seluruh kerajaan di bawah sistem kekaisaran mereka yang berbasis sihir. Sejalan dengan prinsip hidup yang diyakini oleh kaisar pertama, yang wafat setelah berhasil menstabilkan krisis di wilayah barat.Sementara itu di wilayah timur, Kerajaan Synestia yang menjadi kerajaan pusat pengetahuan dan sumber daya manusia, menjalin aliansi dengan kerajaan lainnya guna membendung invasi yang dilakukan oleh Alovetta. Ini merupakan perang besar pertama yang terjadi di Zerynthia sejak jatuhnya Republik Ein di wilayah selatan.
Perang berlangsung sangat sengit antar kedua belah pihak, namun jalannya perang cukup seimbang. Saat itu, sihir yang dimiliki Alovetta masihlah dalam bentuk yang sederhana dengan variasinya yang amat minim. Di satu sisi, tak seperti masa kini, Synestia belumlah memiliki Magitek yang nantinya mampu memukul mundur pasukan Alovetta di masa kini.Perang akhirnya berakhir setelah berjalan kurang lebih hampir 2 abad, dimana kedua belah pihak telah kehabisan sumber daya manusia dan sumber daya alam sebagai penopang di masa perang. Walau kerugian lebih terasa pada aliansi kerajaan di wilayah timur, karena Alovetta beberapa kali membumihanguskan kerajaan-kerajaan yang menolak untuk tunduk pada Alovetta, tanpa tersisa. Baik dari segi bangunan atau pun penduduknya. Pada akhirnya, Alovetta menarik pasukannya dari wilayah timur dengan tangan hampa.